Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Virtual Home of Halfino Berry

Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Inu Kencana Syafiie
Curhat Pesohor dari Jatinangor (http://www.gatra.com/artikel.php?id=104434)
(GATRA/Sulhan Syafi`i)
Penerbit: Progressio, Syaamil Group, Bandung, April 2007, 282 halaman

Sejak kematian praja Wahyu Hidayat tahun 2003 hingga Cliff Muntu belum lama ini, Inu Kencana Syafiie menjadi rujukan banyak media. Dosen IPDN itu terkenal vokal membeberkan banyak borok yang terjadi di institusi tempat ia mengabdi. "Semua media nasional sampai Al-Jazeera pernah mewawancarai saya," katanya. Tak pelak, ia menjadi pesohor.

Tapi Inu tidak memanfaatkan ketenarannya untuk menjadi penyanyi dangdut atau pengusaha kuliner. Dosen kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, 14 Juni 1952, ini menulis dan menerbitkan buku. Sudah 42 buku ia tulis, rata-rata text book untuk perkuliahan di IPDN. Kini Inu mencurahkan isi hati lewat buku teranyarnya: IPDN Undercover: Sebuah Kesaksian Bernurani, Curhat Ala Inu Kencana Syafiie.

Buku ini adalah kumpulan tulisan Inu dari tahun 2003 hingga 2007. "Beberapa pihak menyuruh saya tutup mulut. Mereka membuat kontra-isu bahwa saya mencari popularitas, mencari uang, jabatan, sensansi, dan lain-lain. Saya ingin menjelaskan pada dunia bahwa semua ini berangkat dari hati nurani," kata suami Indah Setriyati itu.

IPDN Undercover menjadi rujukan yang sangat mumpuni mengenai sejumlah kejadian di IPDN. Ia menulis saat publik mulai tersentak dengan kematian praja asal kontingen Jawa Barat, Wahyu Hidayat, pada 2003. Dimulai dari kejadian pada Agustus 2006. Waktu itu, IPDN akan mewisuda prajanya yang telah lulus. Inu membaca daftar nama wisudawan.

Inu kaget bukan main karena dalam daftar itu tercantum nama-nama praja yang telah melakukan tindak kekerasan terhadap Wahyu Hidayat. Inu gerah. Malam sebelum wisuda, ia nekat menelepon Presiden SBY melalui juru bicara kepresidenan, Andi Mallarangeng. "Saya minta izin untuk membeberkan fakta tentang calon wisudawan yang seharusnya ada di balik terali besi untuk mempertanggungjawabkan kasus pembunuhan," kata Inu.

Melalui Andi pula, presiden memberi izin. Lantas Inu pun membeberkan fakta curang itu kepada wartawan. Keesokan harinya, di berbagai media terbit berita berjudul kontroversial: "Presiden Melantik Narapidana". Karena "ulahnya" itu, Inu disidang oleh para petinggi IPDN. "Saya dianggap menjelek-jelekkan almameter," paparnya.

Dari tulisan-tulisan dalam buku ini tergambar filsafat hidup dan sejarah terbentuknya karakter "nekat" dalam diri ayah tiga anak itu. Ketika ia menggambarkan momen kala jenazah Wahyu Hidayat keluar gerbang IPDN, yang kala itu masih bernama STPDN. Tak ada raut sedih dari warga IPDN. "Banyak orang yang malah tertawa," tulisnya.

Inu lantas bertanya-tanya, "Di mana letak keadilan? Jika kasus Wahyu Hidayat dilupakan dan para pembunuhnya dibiarkan berlaku seenaknya," katanya. Tak hanya itu. Inu juga membeberkan rentetan fakta menyimpang "di bawah permukaan" IPDN. Soal seks bebas dan narkoba. Ia tak sungkan pula membeberkan tingkah laku para dosen serta praja dalam bab berjudul "Membongkar Kasus STPDN" --bagian yang agaknya paling menarik dari buku ini.

Dalam buku ini, Inu, misalnya, bercerita soal praja yang membawa kabur istri orang. Kejadian itu berlangsung di Pandeglang saat para praja melakukan bakti karya praja. Dosen yang kerap memutar musik saat mengajar ini pun tak jengah mengungkapkan soal pesta seks para praja dengan mengundang PSK alias pekerja seks komersial. Inu juga menyentil seorang dosen IPDN, yang kabarnya menjadi bintang VCD porno! Parahnya, dosen tersebut sempat duduk di Komisi Disiplin IPDN. Dekadensi moral oknum warga IPDN itu sempat membuatnya kehilangan kesabaran.

"Hancurkanlah sekolah ini, ya Allah, dan ganti dengan yang lebih baik." Begitu ia berdoa. Doanya pun terjawab. Pemerintah, sejak kasus Cliff Muntu mencuat, menerjunkan tim evaluasi yang dipimpin Ryaas Rasyid. Aparat kepolisian menetapkan banyak pihak menjadi tersangka kematian Cliff. Bahkan polisi berjanji menangkap para praja yang melakukan kekerasan dan ditayangkan sejumlah televisi.

Wisnu Wage Pamungkas
[Buku, Gatra Edisi 24 Beredar Kamis, 26 April 2007]

===========================================

kutip dikit:
* Tahukah Anda rekor pembawa narkoba terbanyak di Indonesia? DSM, mantan lulusan terbaik STPDN (mantan wakil gubernur praja), tertangkap di bandara Sukarno Hatta membawa 30 kg obat terlarang ke LN. Dieksekusi mati 2003. (hlm. 212)

* Kasus seks di IPDN saking parahnya merambah sampai ke dosen dan pengasuhnya sendiri. Ada VCD porno dosen segala!!??!! halaman 215 penuh dengan inisial para pejabat IPDN.

* Kematian anak didik IPDN hanyalah dampak, bukan sempalan. Yang lebih mengerikan adalah kejahatan membudaya para pengasuh dan komisi disiplin yang menjadikan kasus anak didik sebagai ladang uang.

* Ingat adegan pemukulan yang sering ditayangkan di TV-TV swasta? ternyata film ini sudah mengalami rekayasa citra. Dalam rekaman sebenarnya, setelah adegan itu para "aktor" sama-sama tertawa sambil minum dan makan roti. Karena adegan ini sendiri direkam untuk "gagah-gagahan", agar kelak mereka bisa ngomong ke para junior, "Kami dulu sanggup, kenapa kamu tidak?" Namun, adegan tertawa tersebut dihapus. Lalu adegan pemukulan diberi musik latar yang seram. Jadilah tayangan yang membuat orang-orang berang.
Intinya, pemukulan memang ada. Dan sebagian besar memang mengerikan. Tetap saja, yang ditayangkan TV adalah manipulasi. Dan, ketika dijual ke CNN misalnya, berapa nilai bisnis yang bermain di sini? (hlm. 201 dan 228)

* Ketika mengangkat masalah narkoba, Inu dipecat dari pengasuhan.

* Ketika mempersoalkan pelantikan para terpidana pembunuh Wahyu Hidayat, Inu dipojokkan dalam sidang yang juga dihadiri Mendagri.

find out more in the book: http://halfino.multiply.com/journal/item/10


deeyand wrote on May 2, '07
jadi pengen baca :p
halfino wrote on May 2, '07
deeyand said
jadi pengen baca :p
eh, denger ga p inu di delta tadi siang?
deeyand wrote on May 2, '07
yah, kagak, bang. pan di kantor kagak ade rodeo eh radio...
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
0 out of 5 stars